Thursday, November 19, 2015

CINTA SUNSET

Ketika detik meminta menit untuk membantunya, berlarilah ia kepada jam dan kemudian hari, begitu juga akhirnya hari mencari sobatnya yang lain minggu, bulan dan tahun. Tujuannya satu, mereka saling membantu bergerak dalam kisah nyata bersama waktu. Aku ada disana, memperhatikan semuanya. Sungguh, air mataku tak hentinya mengalir, ketika aku mengeluh pada waktu untuk berhenti sekali ini saja, biar aku bisa bersamanya, memeluknya dengan nyawa yang  masih ada pada dirinya.
***
Semangatku biasa saja ketika memasuki awal semester  lima kala itu, tidak ada yang berubah. Menyiapkan buku baru, pulpen tambahan, dan sikap yang lebih menyenangkan tentunya. Banyak daftar mata kuliah yang harus diselesaikan, paling tidak harus berkuliah hingga di hari kamis. Lelah dan membosankan yang ada di bayanganku.
Aku melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi, di Universitas ternama yang ada di Sulawesi Tenggara. Maklum saja, saya tidak melanjutkan studiku di luar daerah karena keadaan ekonomi yang serba pas-pasan, tidak miskin namun sederhana saja. Berkuliah disini, menurutku sangat luarbiasa, karena menjadi incaran bagi banyak kalangan. Universitas Negeri yang juga di idolakan anak SMA kelas 3,  yang akan melanjutkan sekolahnya pada jenjang strata satu.
Kuliah Dihari Senin.
Kampus ini memang padat, banyak sekali para pencari ilmu yang berdatangan  sampai – sampai aku harus mengeluarkan kata “tabe-tabe!!” Aku berkuliah di lantai dua ruang rapat manajemen. Karena tempat aku berkuliah di lantai dua, jadi saya harus sedikit berlari karena sudah telat 5 menit, maklum saja rumahku sangat jauh dari kampus. Untung saja dosennya tidak galak, saya di ijinkan masuk olehnya. Sejauh mata memandang, mahasiswa yang berkuliah disitu hanya separuh saja, sekitar 30 orang. Sebagian tidak asing bagiku dan sebagian yang lain adalah para senior yang hanya kenal tampangnya saja, terlalu bayak hingga saya lupa siapa namanya, padahal sering sekelas dengan mereka.
Semua dengan aroma yang sama, mereka hanya menunggu waktu bergerak cepat dan mereka pun pulang. Memang terasa cepat, karena dosen yang masuk hanya mendiskusikan tentang pembentukan kelompok diskusi yang terdiri dari 3 orang saja.
“minggu depan langsung diskusi, nanti di panggil secara acak, tiap  bahan diskusi, semua anggota kelompok harus membuatnya, harus mencari bahan bersama-sama, entah itu di perpustakaan, atau bisa juga lewat intetnet. lebih baik anggotanya sedikit, daripada banyak orang, pengalaman..kalian tahu sendiri itu, maksudnya agar tidak ada yang bersantai – santai, mengharap teman seorang saja yang mengerjakan….!!”
Ucapan pak dosen itu mengakhiri mata kuliah pemasaran yang di ajarkannya. Sikapku terasa aneh , saya harus berkelompok dengan orang pintar, seletingku. Bisa tidak yah,batinku.
Namanya Dede, kata orang dia sangat pintar sekali dan disetiap pertemuan dia termasuk yang paling vokal diantara mahasiswa yang lain, banyak yang memujinya, bahkan saya sendiri harus berucap demikian. Aku tidak tahu asalnya dari mana, apakah masih punya orang tua, atau apa saja mengenai tentangnya aku tidak tahu sama sekali karena  hal itu, tidaklah penting untuk menjadi perhatianku. Yang kutahu, orangnya pintar dan sangat diplomatis.
tugas kelompok  untuk minggu depan, nanti saya saja yang buat!”
Aku berinisiatif sendiri, untuk mengerjakan tugas kelompok dari pak dosen pemasaran, ini kulakukan agar dia tidak menganggapku lemah, seperti mahasiswa lain yang mungkin  ada dalam bayangannya selama ini.
“oh..bagus kalau begitu”
Hebat! aku merasa puas dengan sikapnya Padahal itu perkataan perdana yang  baru saja aku ucapkan padanya.
Minggu berikutnya, tugas yang aku buat, disambut baik oleh dosen dan seluruh teman-teman sekelas, terlebih lagi oleh dede, yang kala itu baru menyadari, bahwa dia sedikitpun tidak memberikan argument oleh tugas kelompok tersebut. Bahkan saat diskusi, dia tidak banyak memberikan jawaban. Terang saja, dia tidak berbuat apa-apa. Ini di luar dugaan, entah dia sedang memiliki masalah, yang jelasnya saya juga tidak mau tahu itu.
***
Waktu berjalan cepat, yang tanpa sadar ternyata sudah hampir dua bulan aku berada disemester 5 ini. Aku selalu saja tersenyum - senyum sendiri, ketika mengingat bahwa ternyata sipintar itu mengagumi sikapku disetiap mata kuliahku bersamanya. Jenius.
Dan, sungguh tidak pernah sedikit pun terpikir olehku, bahwa suatu saat Dede, yang di kenal orang sangat menjaga sikapnya terhadap temannya terlebih lagi teman perempuan di kampusku bisa begitu mengagumiku. Sampai – sampai aku merasa semua ini tidak nyata, seperti mimpi dan selalu saja aku menunggu waktu kapan aku terbangun kembali dari mimpi, namun tak pernah hal itu terjadi. Ini  nyata, bukan mimpi.
Dia adalah seorang yang agamis namun tidak fanatik, biasa saja. Banyak hal yang tanpa aku sadari, batin ini ternyata lebih mengaguminya lagi. Aku mulai merasa jatuh hati padanya. Tetapi aku sadar sampai kapan pun tidak akan pernah ada kata pacaran. Hal itu tidak ada didalam kamus prinsip hidupnya. Terlalu bayak peraturan yang terlihat. Terlalu banyak hal yang harus di lakukannya lebih dulu, untuk sampai ketahap memikirkan tentang pernikahan. Sungguh dilema bagiku.
***
Tinggal Sebulan Lagi Memasuki Semester 6
Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan pada kedua orangtuaku dan saudara – saudaraku? Apa jadinya nanti? Apakah aku siap?
Sore, ketika aku menjalankan rutinitas sebagai seorang muslimah yang mencari ilmu agama. Kakak yang membimbingku memberitahu hal yang sangat membuatku shock setengah mati.
“Arin, apa…kamu siap menjadi walimah?”
 “yah…masa si kak? Maksudnya bagaimana?siapa?waduh…astagfirullah…”
Terlihat sekali, saat itu aku sangat luar biasa salah tingkahnya, kakak itu tersenyum.
“teman kampusmu, yang bernama Dede”
“…”
Aku hanya terdiam mendengar ucapannya, lama sekali kakak itu bercerita mengapa dan bagaimana dia mengambil keputusan itu. Tentu saja perasaanku campur aduk.
Aku menerimanya. Sekali lagi aku seperti bermimpi. Terasa stres menyelimutiku. Masalah berat sebentar lagi menemuiku. Namun jauh di hatiku, aku sangat senang ternyata saya bertemu dengannya, berteman dengannya lebih jauh dan tidak tahu sampai sejauh mana aku bersamanya kelak.
“di mana alamatmu, bisa kakak minta?”
Tak lama setelah itu, akhirnya keluarganya datang. Ketika itu turun hujan, aku gugup bukan hanya karena keluarganya yang datang tetapi ucapan adikku, Afsan.
“ka ada  yang mencari mama dan bapak..dari keluarganya Dede katanya…”
...yang benar kamu!??”
“memangnya kenapa???”
“itu calon mertua kakak tahu!!!”
“ya ampun kak, mengapa kakak tidak pernah cerita..!!! tapi kemarin aku baru saja membaca sebuah buku, katanya.. kalau orang yang hendak datang melamar tapi turun hujan, itu tidak bagus kak, kata orang tua dulu, dia tiak akan bertahan lama dalam membangun bahtera rumah tangga dengan perempuan yang hendak dinikahinya nanti, tidak pasti kejadian apa yang akan terjadi….”
“kamu nih…sembarangan kalau bicara,”
“entahlah..mudah – mudahan itu tidak terjadi”
Sekalipun aku tidak percaya, namun perkataan Afsan menjadi beban pikiranku.
Malam itu semuanya berjalan apa adanya. Keluargaku sangat menyukainya, ternyata abinya adalah sobat lama dari bapakku. Tentulah tidak ada masalah yang terlalu besar yang dihadapi. Hanya masalah prinsip saja dalam membuat acara pernikahan. Selebihnya semua berjalan lancar.
***
Kerabat, sahabat dan para tetangga terlihat senang dengan pernikahan yang terselenggara. Banyak sekali yang bertanya tentang bagaimana kami bisa bertemu, dan berapa lama kami berpacaran. Aku sempat tertawa saja ketika ada pertanyaan ini terlontar. Teman – teman yang begitu mengenalku, hanya tersenyum – senyum penuh arti ketika melihat kami bersanding di pelaminan. Bahagianya.
***
Kejadian 9 Desember
Hari terus saja berlalu, setahun tidak terasa aku telah memiliki Fatir, anakku yang telah menjadi buah hati harapan kami nantinya. Aktivitas dikampus menjadi lebih menyenangkan terasa lebih mudah, karena setiap ada kesulitan Dede selalu saja berada sampingku.
Hari itu, tak ada sedikit pun firasat yang aku rasakan  bahwa hal yang buruk akan terjadi pada keluarga kami. Pagi setelah sarapan, kami langsung pergi ke kampus  seperti biasa. Dan anakku Fatir, akan ku titipkan pada ibuku. Tetapi di tengah perjalanan, Dede kembali karena dia belum mencium Fatir katanya. Entahlah apakah itu firasat, namun aku sama sekali tidak memperhatikan hal itu.
Tanggal 9 desember, merupakan hari yang paling di tunggu – tunggu oleh semua kalangan aktifis kampus (Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia). Tentu saja hal ini tidak akan terlewatkan oleh Dede. Tak lama sampai di kampus, semua orang terkejut ketika melihat Dede berorasi  karena selama ini kami tidak pernah melihatnya melakukan unjuk rasa. Aku seperti tidak mengenal ternyata yang berorasi itu adalah suamiku sendiri. Ada rasa kagum, takut dan khawatir, apakah dia sanggup memegang setiap ucapannya, apakah dia mampu memegang tanggung jawabnya setelah mengucapkan kata – katanya.
Aku melihat kerumunan orang, aku melihat begitu banyak mobil yang berdatangan. Aku sungguh memperhatikannya secara seksama. Ternyata, orang dan mobil yang kulihat hendak menjemputnya pergi. Dari kejauhan dia melihatku dengan senyumanya, yang kutahu itu hanya teruntuk diriku saja, dia seperti mengucapkan sesuatu namun aku tak tahu apa itu. berlalu dan pergi.
***
“Arin….Arin…Arin…”
aku mendengar Rhea sobatku, berteriak histeris dari kejauhan. Perasaanku tidak seperti biasanya. Entahlah, mudah – mudahan tidak terjadi apa – apa, batinku.
“ada apa…kenapa kamu teriak – teriak???”
“ikut aku cepat…kita naik ojek saja!!!”
“ada apa…???”
Sugguh  perasaanku kacau balau ketika itu. dari teriakan Rhea, hingga setiap kata – kata yang di ucapkannya.
“ikut saja...!!!”
Dia hampir berteriak ketika mengucapkan kata – kata. Dia tidak marah, aku tahu itu. tapi, seperti ada hal yang mengganjal yang ingin dikatakannya.
Kami tiba di tempat yang tidak asing. Banyak sekali kerumunan orang, tidak terhitung jumlahnya. Ada yang berbaju putih, hitam(dari organisasi kampus lain) dan yang beralmamater kampus kami. Pikirku, kenapa mereka tidak berteriak? Kenapa tidak ada yang membentangkan spanduk? Mengapa tidak ada yang mengibarkan bendera persatuannya? Bukankah hari ini, harinya aktivis dan ormas? Mengapa mereka berdesak – desakan?Begitu banyak pertanyaan. Ada yang menarik tanganku, dan ternyata itu adalah Rhea.
Aku tidak bertanya lagi, ketika yang kulihat di papah oleh salah seorang teman kampus kami, adalah Dede. aku menangis. Aku tak mendengar suara – suara lagi, suara kerumunan orang yang begitu banyak, suara bising. Aku berlari memeluknya, membaringkannya di kedua tanganku.
Aku tak hentinya menangis, ketika bibirnya mulai bergerak dengan terbata – bata mengucapkan kata – kata
“ar ariin..bo..boleh aku bertanya ssatu..satu hal saja?”
“katakan saja apa?apa pun itu boleh kamu tanyakan,”
“berapa lama lagi..ka kau akan menemuiku kembali?”
Aku tahu membuatnya bertahan lama lagi, dengan membawanya kerumah sakit itu sungguh tidak mungkin. Aku tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Aku tahu, aku akan kehilangannya untuk selamanya di dunia ini. Air mataku terus saja mengalir menjatuhi kerah bajunya yang berlumuran darah.
“jangan berkata begitu…ak..aku akan menemuimu tiap hari, di rumah kita, bersama Fatir anak kita”
“jangan menangis…aku..akan memenunggumu..aku akan selalu menunggumu say..sayangku”
Senyumnya tergurat saja, tak sedikit pun ia mengeluarkan air mata. Aku tahu rasa sakitnya tak tertahan lagi. Aku tahu masih banyak yang ingin dia katakan. Namun kalimat - kalimat itu saja yang mampu di ucakannya kala itu. Kata – katanya tak terdengar lagi, namun aku mengerti apa yang dikatakannya. Dia mengucap dua kalimat syahadat untuk yang terakhir kali dan kemudian pergi untuk selamanya. Airmataku tak terbendung lagi, terasa semuanya menjadi gelap dan aku tak sadarkan diri lagi.
Besoknya, Rhea membawakanku secarik koran. Berita tentangnya. Aku tak sanggup membacanya. Entahlah, ada apa dengan diriku. Tapi, jauh di lubuk hatiku yang paling dalam. Aku hanya ingin berkata, bahwa aku telah merelakan kepergiannya. Dia menginginkan mati syahid, dan dia telah menemukannya. 

Sungguh aku sangat mencintainya, sampai kapanpun. aku tidak akan mengkhianati cintanya dengan mencari penggantinya. Aku akan melakukan hal – hal yang terbaik, yang selalu saja ia tersenyum ketika melihatku melakukan hal – hal itu. Aku akan selalu mendoakannya, di setiap goresan – goresan tinta Allah yang senantiasa aku baca. Aku, akan selalu menunggumu hingga akhir hidupku di dunia ini. Aku rela, bagaimana pun caranya Allah mencabut nyawaku. Karena semua yang terjadi itulah, yang akan mempertemukan diriku dengannya nanti. Dede aku merindukanmu. Selalu.