Ketika detik meminta menit untuk membantunya, berlarilah ia kepada jam dan kemudian hari, begitu juga akhirnya hari mencari sobatnya yang lain minggu, bulan dan tahun. Tujuannya satu, mereka saling membantu bergerak dalam kisah nyata bersama waktu. Aku ada disana, memperhatikan semuanya. Sungguh, air mataku tak hentinya mengalir, ketika aku mengeluh pada waktu untuk berhenti sekali ini saja, biar aku bisa bersamanya, memeluknya dengan nyawa yang masih ada pada dirinya.
***
Semangatku
biasa saja ketika memasuki awal semester
lima
kala itu, tidak ada yang berubah. Menyiapkan buku baru, pulpen tambahan, dan
sikap yang lebih menyenangkan tentunya. Banyak daftar mata kuliah yang harus
diselesaikan, paling tidak harus
berkuliah hingga di hari kamis. Lelah dan membosankan yang ada di bayanganku.
Aku melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi, di Universitas
ternama yang ada di Sulawesi Tenggara. Maklum saja, saya tidak melanjutkan studiku di luar
daerah karena keadaan ekonomi yang serba pas-pasan, tidak miskin namun
sederhana saja. Berkuliah disini, menurutku sangat luarbiasa, karena menjadi
incaran bagi banyak kalangan. Universitas Negeri yang juga di idolakan anak SMA
kelas 3, yang akan melanjutkan sekolahnya
pada jenjang strata satu.
Kuliah Dihari Senin.
Kampus
ini memang padat, banyak sekali para pencari ilmu yang berdatangan sampai
– sampai aku harus mengeluarkan kata “tabe-tabe!!”
Aku berkuliah di lantai dua ruang rapat manajemen. Karena tempat aku berkuliah di lantai dua, jadi saya
harus sedikit berlari karena sudah telat 5 menit, maklum saja rumahku sangat
jauh dari kampus. Untung saja dosennya tidak galak, saya di ijinkan masuk
olehnya. Sejauh mata
memandang, mahasiswa yang berkuliah disitu hanya separuh saja, sekitar
30 orang. Sebagian tidak asing bagiku dan sebagian yang lain adalah para senior
yang hanya kenal tampangnya saja, terlalu bayak hingga saya lupa siapa namanya,
padahal sering sekelas dengan mereka.
Semua
dengan aroma yang sama, mereka hanya menunggu waktu bergerak cepat dan mereka
pun pulang. Memang terasa cepat, karena dosen yang masuk hanya mendiskusikan tentang pembentukan kelompok diskusi yang terdiri dari 3
orang saja.
“minggu
depan langsung diskusi, nanti di panggil secara acak, tiap bahan diskusi, semua anggota kelompok harus membuatnya, harus mencari bahan bersama-sama, entah itu di
perpustakaan, atau bisa juga lewat intetnet. lebih baik anggotanya sedikit, daripada banyak orang, pengalaman..kalian tahu
sendiri itu, maksudnya agar
tidak ada yang bersantai – santai,
mengharap teman seorang saja yang mengerjakan….!!”
Ucapan
pak dosen itu mengakhiri mata kuliah pemasaran yang di ajarkannya. Sikapku
terasa aneh , saya harus berkelompok dengan orang pintar, seletingku. Bisa
tidak yah,batinku.
Namanya
Dede, kata orang dia sangat pintar sekali dan disetiap pertemuan dia termasuk
yang paling vokal diantara mahasiswa yang lain, banyak yang memujinya, bahkan saya sendiri harus berucap
demikian. Aku tidak tahu asalnya dari mana, apakah masih punya orang tua, atau
apa saja mengenai tentangnya aku tidak tahu sama sekali karena hal itu, tidaklah penting untuk menjadi
perhatianku. Yang kutahu,
orangnya pintar dan sangat diplomatis.
“tugas kelompok untuk minggu depan, nanti saya saja yang buat!”
Aku
berinisiatif sendiri, untuk
mengerjakan tugas kelompok dari pak dosen pemasaran, ini kulakukan agar dia
tidak menganggapku lemah, seperti mahasiswa lain yang mungkin ada dalam bayangannya selama ini.
“oh..bagus
kalau begitu”
Hebat!
aku merasa puas dengan sikapnya Padahal itu perkataan perdana yang baru saja aku ucapkan padanya.
Minggu berikutnya, tugas yang aku buat, disambut baik
oleh dosen dan seluruh teman-teman sekelas, terlebih lagi oleh dede, yang kala
itu baru menyadari, bahwa dia sedikitpun tidak memberikan argument oleh tugas
kelompok tersebut. Bahkan saat diskusi, dia tidak banyak memberikan jawaban.
Terang saja, dia tidak berbuat apa-apa. Ini di luar dugaan, entah dia sedang
memiliki masalah, yang jelasnya saya juga tidak mau tahu itu.
***
Waktu
berjalan cepat,
yang tanpa sadar ternyata sudah hampir dua bulan aku berada disemester 5 ini. Aku selalu saja
tersenyum - senyum sendiri, ketika mengingat bahwa ternyata sipintar itu
mengagumi sikapku disetiap mata kuliahku bersamanya. Jenius.
Dan, sungguh tidak pernah sedikit pun
terpikir olehku, bahwa suatu saat Dede,
yang di kenal orang sangat menjaga sikapnya terhadap temannya terlebih lagi
teman perempuan di kampusku bisa begitu mengagumiku.
Sampai – sampai aku merasa semua ini tidak nyata, seperti mimpi dan selalu saja
aku menunggu waktu kapan aku terbangun kembali dari mimpi, namun tak pernah hal
itu terjadi. Ini nyata, bukan mimpi.
Dia
adalah seorang yang agamis namun tidak fanatik, biasa saja. Banyak hal yang
tanpa aku sadari, batin ini ternyata lebih mengaguminya lagi. Aku mulai merasa jatuh hati padanya.
Tetapi aku sadar sampai kapan pun tidak akan pernah ada kata pacaran. Hal itu tidak ada didalam kamus prinsip
hidupnya. Terlalu bayak peraturan yang terlihat. Terlalu banyak hal yang harus
di lakukannya lebih dulu, untuk sampai ketahap memikirkan tentang pernikahan.
Sungguh dilema bagiku.
***
Tinggal Sebulan Lagi Memasuki
Semester 6
Bagaimana
ini? Apa yang harus aku katakan pada kedua orangtuaku dan saudara – saudaraku?
Apa jadinya nanti? Apakah aku siap?
Sore,
ketika aku menjalankan rutinitas sebagai seorang muslimah yang mencari ilmu agama. Kakak yang membimbingku
memberitahu hal yang sangat membuatku shock
setengah mati.
“Arin, apa…kamu siap menjadi walimah?”
“yah…masa si kak?
Maksudnya bagaimana?siapa?waduh…astagfirullah…”
Terlihat sekali, saat itu aku sangat
luar biasa salah tingkahnya, kakak itu tersenyum.
“teman
kampusmu, yang bernama Dede”
“…”
Aku hanya terdiam mendengar ucapannya, lama sekali kakak
itu bercerita mengapa dan
bagaimana
dia mengambil keputusan itu. Tentu saja perasaanku campur aduk.
Aku menerimanya. Sekali lagi aku seperti bermimpi. Terasa
stres menyelimutiku. Masalah berat sebentar lagi menemuiku. Namun jauh di hatiku,
aku sangat senang ternyata
saya bertemu dengannya, berteman dengannya lebih jauh dan tidak tahu sampai
sejauh mana aku bersamanya kelak.
“di
mana alamatmu, bisa kakak minta?”
Tak
lama setelah itu, akhirnya keluarganya datang. Ketika itu turun hujan, aku
gugup bukan hanya karena keluarganya yang datang tetapi ucapan adikku, Afsan.
“ka
ada yang mencari mama dan bapak..dari keluarganya
Dede katanya…”
“...yang benar kamu!??”
“memangnya
kenapa???”
“itu
calon mertua kakak tahu!!!”
“ya ampun kak, mengapa kakak tidak
pernah cerita..!!! tapi kemarin aku
baru saja membaca sebuah buku, katanya.. kalau orang yang hendak datang melamar
tapi turun hujan, itu tidak bagus kak, kata orang tua dulu, dia tiak akan
bertahan lama dalam membangun bahtera
rumah tangga dengan perempuan
yang hendak dinikahinya nanti, tidak pasti kejadian apa yang akan terjadi….”
“kamu nih…sembarangan kalau bicara,”
“entahlah..mudah – mudahan itu tidak terjadi”
Sekalipun aku tidak percaya, namun perkataan Afsan
menjadi beban pikiranku.
Malam itu semuanya berjalan apa adanya. Keluargaku sangat
menyukainya, ternyata abinya adalah
sobat lama dari bapakku. Tentulah tidak ada masalah yang terlalu besar yang
dihadapi. Hanya masalah prinsip saja dalam membuat acara pernikahan. Selebihnya
semua berjalan lancar.
***
Kerabat, sahabat dan para tetangga terlihat senang dengan
pernikahan yang terselenggara. Banyak sekali yang bertanya tentang bagaimana
kami bisa bertemu, dan berapa lama kami berpacaran. Aku sempat tertawa saja
ketika ada pertanyaan ini terlontar. Teman – teman yang begitu mengenalku,
hanya tersenyum – senyum penuh arti ketika melihat kami
bersanding di pelaminan. Bahagianya.
***
Kejadian 9 Desember
Hari
terus saja berlalu, setahun tidak terasa aku telah memiliki Fatir, anakku yang
telah menjadi buah hati harapan kami nantinya. Aktivitas dikampus menjadi lebih
menyenangkan terasa lebih mudah, karena setiap ada kesulitan Dede selalu saja
berada sampingku.
Hari
itu, tak ada sedikit pun firasat yang aku rasakan bahwa hal yang buruk akan terjadi pada
keluarga kami. Pagi setelah sarapan, kami langsung pergi ke kampus seperti biasa. Dan anakku Fatir, akan ku
titipkan pada ibuku. Tetapi di tengah perjalanan, Dede kembali karena dia belum
mencium Fatir katanya. Entahlah apakah itu firasat, namun aku sama sekali tidak
memperhatikan hal itu.
Tanggal
9 desember, merupakan hari yang paling di tunggu – tunggu oleh semua kalangan
aktifis kampus (Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia). Tentu saja hal ini tidak
akan terlewatkan oleh Dede. Tak lama sampai di kampus, semua orang terkejut
ketika melihat Dede berorasi karena
selama ini kami tidak pernah melihatnya melakukan unjuk rasa. Aku seperti tidak
mengenal ternyata yang berorasi itu adalah suamiku sendiri. Ada rasa kagum,
takut dan khawatir, apakah dia sanggup memegang setiap ucapannya, apakah dia
mampu memegang tanggung jawabnya setelah mengucapkan kata – katanya.
Aku
melihat kerumunan orang, aku melihat begitu banyak mobil yang berdatangan. Aku
sungguh memperhatikannya
secara seksama. Ternyata, orang dan mobil yang kulihat hendak menjemputnya
pergi. Dari kejauhan dia melihatku dengan senyumanya, yang kutahu itu hanya
teruntuk diriku saja, dia seperti mengucapkan sesuatu namun aku tak tahu apa
itu. berlalu dan pergi.
***
“Arin….Arin…Arin…”
aku
mendengar Rhea sobatku, berteriak histeris dari kejauhan. Perasaanku tidak seperti biasanya. Entahlah, mudah –
mudahan tidak terjadi apa – apa, batinku.
“ada
apa…kenapa kamu teriak – teriak???”
“ikut
aku cepat…kita naik ojek saja!!!”
“ada
apa…???”
Sugguh perasaanku kacau balau ketika itu. dari
teriakan Rhea, hingga setiap kata – kata yang di ucapkannya.
“ikut
saja...!!!”
Dia
hampir berteriak ketika mengucapkan kata – kata. Dia tidak marah, aku tahu itu.
tapi, seperti ada hal yang mengganjal yang ingin dikatakannya.
Kami
tiba di tempat yang tidak asing. Banyak sekali kerumunan orang, tidak terhitung
jumlahnya. Ada
yang berbaju putih, hitam(dari organisasi kampus lain) dan yang beralmamater
kampus kami. Pikirku, kenapa mereka tidak berteriak? Kenapa tidak ada yang
membentangkan spanduk? Mengapa tidak ada yang mengibarkan bendera persatuannya?
Bukankah hari ini, harinya aktivis dan ormas? Mengapa mereka berdesak –
desakan?Begitu banyak pertanyaan. Ada yang menarik tanganku, dan ternyata itu
adalah Rhea.
Aku
tidak bertanya lagi, ketika yang kulihat di papah oleh salah seorang teman
kampus kami, adalah Dede. aku menangis. Aku tak mendengar suara – suara lagi,
suara kerumunan orang yang begitu banyak, suara bising. Aku berlari memeluknya,
membaringkannya di kedua tanganku.
Aku
tak hentinya menangis, ketika bibirnya mulai bergerak dengan terbata – bata
mengucapkan kata – kata
“ar
ariin..bo..boleh aku bertanya ssatu..satu hal saja?”
“katakan
saja apa?apa pun itu boleh kamu tanyakan,”
“berapa
lama lagi..ka kau akan menemuiku kembali?”
Aku
tahu membuatnya bertahan lama lagi, dengan membawanya kerumah sakit itu sungguh
tidak mungkin. Aku tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Aku tahu, aku akan
kehilangannya untuk selamanya di dunia ini. Air mataku terus saja mengalir
menjatuhi kerah bajunya yang berlumuran darah.
“jangan
berkata begitu…ak..aku akan menemuimu tiap hari, di rumah kita, bersama Fatir
anak kita”
“jangan
menangis…aku..akan memenunggumu..aku akan selalu menunggumu say..sayangku”
Senyumnya
tergurat saja, tak sedikit pun ia mengeluarkan air mata. Aku tahu rasa sakitnya
tak tertahan lagi. Aku tahu masih banyak yang ingin dia katakan. Namun kalimat
- kalimat itu saja yang mampu di ucakannya kala itu. Kata – katanya tak
terdengar lagi, namun aku mengerti apa yang dikatakannya. Dia mengucap dua
kalimat syahadat untuk yang terakhir kali dan kemudian pergi untuk selamanya.
Airmataku tak terbendung lagi, terasa semuanya menjadi gelap dan aku tak
sadarkan diri lagi.
Besoknya,
Rhea membawakanku secarik koran. Berita tentangnya. Aku tak sanggup membacanya.
Entahlah, ada apa dengan diriku. Tapi, jauh di lubuk hatiku yang paling dalam.
Aku hanya ingin berkata, bahwa aku telah merelakan kepergiannya. Dia
menginginkan mati syahid, dan dia
telah menemukannya.
Sungguh
aku sangat mencintainya, sampai kapanpun. aku tidak akan mengkhianati cintanya
dengan mencari penggantinya.
Aku akan melakukan hal – hal yang terbaik, yang selalu
saja ia tersenyum ketika melihatku melakukan hal – hal itu. Aku
akan selalu mendoakannya, di setiap goresan – goresan tinta Allah yang
senantiasa aku baca. Aku, akan selalu menunggumu hingga akhir
hidupku di dunia ini. Aku rela,
bagaimana pun caranya Allah mencabut nyawaku. Karena semua yang terjadi itulah,
yang akan mempertemukan diriku dengannya nanti. Dede aku merindukanmu. Selalu.